Temuan Kuno Hilang

Dikirim Uncategorized dengan pengait kata (tags), , , , pada Juli 11, 2008 oleh arkeologiunud

KOMPAS/Situs Sejarah

Temuan Kuno Hilang

Jumat, 11 Juli 2008 | 00:14 WIB

Medan, Kompas - Temuan kuno bersejarah di bagian utara Medan banyak hilang tanpa ada pemangku kepentingan yang tahu. Belakangan ditemukan timbunan keramik kuno abad ke-13 hingga ke-14 di Kelurahan Terjun, Kecamatan Medan Marelan, Medan. Sayangnya, temuan ini baru diketahui setelah dua tahun warga menemukannya terlebih dahulu.

”Dua tahun lalu ada penggalian pelebaran Sungai Bederah dekat Belawan. Waktu itu kami hanya tahu banyak keramik di timbunan tanah galian. Saya tidak tahu kalau benda-benda itu bersejarah,” kata pegawai Kecamatan Medan Marelan, Kota Medan, Saiful Bahri Nasution, Kamis (10/7), ditemui di lokasi penemuan.

Kepala Pusat Studi Ilmu Sejarah dan Ilmu Sosial Universitas Negeri Medan Ichwan Azhari mengaku kecolongan. Kalangan akademisi dan arkeolog tidak mengetahui adanya temuan itu. ”Kami baru tahu setelah datang ke lokasi bersama peneliti National University of Singapore, Edward MacKinnon,” kata Ichwan.

Warga setempat menemukan aneka keramik secara tak sengaja. Pecahan keramik kuno tergeletak begitu saja di atas timbunan tanah galian dan sebagian terpendam di kedalaman sekitar 1 meter. Ichwan memastikan banyak keramik kuno yang hilang tanpa sepengetahuan pemerintah.

”Selama dua tahun temuan itu tidak pernah dilaporkan. Sangat mungkin banyak yang hilang,” katanya.

Hilangnya temuan sejarah itu diakui oleh Saiful Bahri. Warga menjual keramik yang relatif masih utuh kepada pendatang yang membelinya, sedangkan keramik yang pecah banyak disimpan warga di rumahnya. (NDY)

Situs Sangiran Akan Dikomparasikan dengan Kenya

Dikirim Uncategorized dengan pengait kata (tags), , pada Juli 4, 2008 oleh arkeologiunud
Jumat, 4 Juli 2008 | 00:50 WIB kompas

Magelang, Kompas - Situs manusia purba Sangiran akan dikomparasikan situs manusia purba di Afrika. Sebagai awal penelitian akan dilakukan di situs Omo dan Oduvai di Kenya.

Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Nasional Badan Pengembangan Sumber Daya Kebudayaan dan Pariwisata Departemen Kebudayaan dan Pariwisata Tony Djubiantono menjelaskan, dalam studi ini akan dilihat bentuk sebuah situs yang sengaja dilindungi pemerintah setempat dan jauh dari permukiman penduduk.

”Kami berharap bisa mendapat pengetahuan, celah-celah tempat seperti apa yang perlu dilihat lagi untuk menggali lebih banyak temuan dari Sangiran,” ujarnya di sela-sela seminar ”Uncovering The Meaning of The Hidden Base of Candi Borobudur” di Hotel Manohara, Magelang, Jateng, Kamis (3/7).

Situs Sangiran dianggap sudah rusak karena 80 persen bagiannya sudah dirambah manusia, bahkan fosil-fosilnya diperjualbelikan. Dengan melihat situs utuh, belum tersentuh di Kenya, diharapkan didapat informasi untuk memperdalam penelitian di titik-titik yang selama ini belum pernah tersentuh di Sangiran.

Dari penelitian ini, nantinya juga akan dipelajari manajemen pengelolaan situs. Pengetahuan ini, menurut Tony, akan menjadi informasi dan masukan penting bagi pemerintah, untuk menjaga situs Sangiran yang berada di tengah permukiman penduduk.

Setelah itu akan dilakukan studi komparasi di situs manusia purba di Etiopia dan Tanzania. Afrika dipilih karena di sana merupakan lokasi cikal bakal migrasi manusia purba (Homo erectus). (EGI)

Perburuan Fosil Manusia Purba di Sangiran

Dikirim Uncategorized dengan pengait kata (tags), , , pada Juni 13, 2008 oleh arkeologiunud
Kepurbakalaan
Perburuan Fosil Manusia Purba di Sangiran
Jumat, 13 Juni 2008 | 00:43 WIB

Senin (2/6) siang, Museum Sangiran di Kabupaten Sragen, Jawa Tengah, kedatangan tamu istimewa. Tiga polisi dan dua jaksa dari Sragen tiba-tiba bertandang ke sana. Kalau bukan terkait masalah fosil-fosil purba, lalu apa?

”Memang masih urusan fosil, tapi bukan soal temuan fosil dalam kaitan Sangiran sebagai sebuah pusat evolusi manusia terkemuka di dunia. Mereka datang untuk melengkapi berkas perkara terkait kasus perdagangan fosil yang berhasil diungkap pihak kepolisian,” kata Harry Widianto, ahli arkeologi/paleoantropologi, yang juga adalah Kepala Balai Pelestarian Manusia Purba Sangiran.

Kasus perdagangan fosil asal Sangiran yang melibatkan lelaki berinisial Sad alias Sbr itu sendiri sebetulnya terjadi pada pertengahan Oktober 2007. Sedikitnya tujuh fosil hewan vertebrata yang sedianya akan dibawa ke Malang, Jawa Timur, digagalkan polisi. Selain menahan Sbr—warga Desa Krikilan, Kecamatan Kalijambe, Sragen, yang memang dikenal luas sebagai tengkulak sekaligus ”pedagang” fosil—polisi juga mengamankan dua tersangka lain.

Ketujuh fosil hewan purba dimaksud terdiri atas dua rahang atas dan satu rahang bawah gajah (Elephas sp), rahang atas kerbau (Bubalus paleokarabau), kepala banteng (Bo bibos paleosondaicus), rahang atas kuda nil (Hippopotamus sp), serta satu rahang bawah buaya (Crocodillus sp). Semua asli meski benda cagar budaya tersebut telah dimodifikasi dan direkonstruksi dengan bahan semen. Setelah lebih dari setengah tahun hanya berstatus tersangka, pada Juni 2008 Sad alias Sbr akhirnya ditahan pihak kepolisian.

Bukan hal baru

Kasus jual beli fosil hasil penemuan dan atau perburuan secara ilegal di situs arkeologi prasejarah yang sudah ditetapkan sebagai warisan dunia oleh UNESCO tersebut sebetulnya bukan hal baru. Cukup banyak kasus yang sudah mencuat ke permukaan. Hanya saja, semua kasus berakhir tanpa kejelasan, apalagi sampai di pengadilan.

Kasus paling menghebohkan tentu saja terkait temuan fosil tengkorak manusia purba oleh Sugimin, penduduk Desa Grogolan, Kecamatan Plupuh, Sragen. Setelah beberapa kali pindah tangan, fosil ini sampai ke tangan Donald E Tyler dengan transaksi senilai Rp 3,8 juta.

Namun, dalam suatu jumpa pers di Yogyakarta, ahli antropologi ragawi dari Universitas Idaho, AS, itu malah mengklaim fosil tengkorak manusia purba itu merupakan temuannya dalam suatu penelitian di Sangiran. Belakangan, semua omong kosong Tyler terbongkar. Tyler justru membelinya dari Sad alias Sbr, salah satu tengkulak dalam rantai perdagangan fosil Sangiran, yang kini ditahan polisi untuk kasus berbeda.

Kasus lain berderet, tetapi tak satu pun yang berakhir di meja pengadilan. Sementara di sisi lain, perburuan atas fosil-fosil purba yang melibatkan penduduk di kawasan ini terus berlangsung.

Modus perburuan fosil Sangiran sebetulnya sederhana. Dibelit oleh kemiskinan, warga yang tinggal di lahan-lahan kering dan tandus itu mendatangi sisi-sisi bukit yang diperkirakan mengandung fosil.

Perburuan terutama dilakukan pada musim hujan. Jika hujan turun, lapisan tanah di sisi-sisi bukit di kawasan Sangiran sangat rentan erosi sehingga fosil-fosil yang ada kerap tersingkap. Pekerjaan berikutnya hanya tinggal menggali untuk menemukan kemungkinan ada fosil lain.

Penduduk yang tinggal di kawasan situs seluas 56 kilometer persegi tersebut umumnya tahu persis lokasi mana saja yang berpotensi mengandung fosil. Mereka juga tahu ciri-ciri umum tanah yang diperkirakan menyimpan fosil atau artefak dari masa 1,5 juta hingga 700.000 tahun lampau tersebut. Tanah yang dicurigai mengandung fosil dideteksi terlebih dahulu dengan linggis atau dengan menusukkan pipa besi yang berujung runcing.

”Kalau di lapisan tanah itu banyak ditemukan batu krakal dan batu-batu bulat, hampir bisa dipastikan di dalamnya ada fosil,” kata Asmorejo (62), satu di antara puluhan ”pemburu” fosil yang tinggal di Desa Manyarejo, Kecamatan Plupuh.

Memapas bukit

Sejak dua tahun terakhir muncul modus baru. Lahan milik penduduk yang berada di kawasan perbukitan disewa atau dibeli oleh ”investor”. Dengan dalih untuk mengambil tanah dan pasirnya sebagai bahan bangunan, puluhan penduduk dipekerjakan untuk memapas bukit.

Namun, warga dan aparat pemerintahan desa di sana sebetulnya tahu ada tujuan lain di balik aktivitas tersebut. Pemapasan sisi-sisi tanah berbukit, terutama di wilayah Desa Manyarejo, juga dimaksudkan untuk mencari fosil yang terkandung di dalamnya.

Fosil-fosil hasil perburuan itu umumnya dijual kepada tengkulak yang berpusat di Desa Krikilan. Keberadaan kios-kios souvenir yang memajang ”fosil” hasil kerajinan penduduk, sudah bukan rahasia lagi, juga menjadi semacam tempat transaksi fosil-fosil asli. Peminatnya tak hanya turis, para peneliti dan kalangan akademik pun memanfaatkan jasa mereka, seperti yang dilakukan Tyler.

Hasil penelusuran Bambang Sulistyanto, arkeolog dari Puslitbang Arkeologi Nasional yang tengah melakukan penelitian untuk disertasinya di Universitas Indonesia (UI), terlihat bahwa tengkulak adalah otak dari keseluruhan sistem transaksi fosil di Sangiran. Pelaku kedua adalah pemburu, dalam hal ini adalah orang yang ditugaskan tengkulak untuk berburu fosil.

Pemburu atau pencari fosil tersebut, bersama tengkulak, dalam praktiknya juga memprovokasi penduduk supaya ikut mencari fosil. Jika menemukan fosil, penduduk disuruh melaporkan kepada mereka.

Penyidikan yang dilakukan aparat keamanan, baik polisi maupun jaksa, atas kasus perdagangan fosil yang melibatkan salah satu pentolannya, Sad alias Sbr, seharusnya dijadikan titik berangkat untuk masuk lebih jauh. Sebab, Sad alias Sbr hanya satu di antara sekian banyak tengkulak yang berpusat di Desa Krikilan. (KUM/KEN)

Mei 2008 Prambanan Dibuka Kembali

Dikirim Uncategorized dengan pengait kata (tags), , , pada April 30, 2008 oleh arkeologiunud

kompas

Rabu, 30/4/2008 | 17:37 WIB YOGYAKARTA, RABU-Sejumlah bangunan candi di kompleks Candi Prambanan yang rusak akibat gempa bumi 27 Mei 2006 akan dibuka kembali untuk kunjungan wisatawan mulai Mei 2008. “Para wisatawan akan bisa langsung masuk ke bangunan candi, karena sebagian pekerjaan renovasi telah selesai,” kata Direktur Operasonal dan Pengembangan PT Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan dan Ratu Boko, Ir Guntur Purnomo di Prambanan, Rabu.

Ia mengatakan, Badan Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menjadwalkan tahap pertama pekerjaan renovasi untuk bangunan Candi Wisnu di kompleks Candi Prambanan selesai pada pertengahan Mei 2008.

Didampingi Direktur Administrasi dan Keuangan Drs Gendro Wiyono MM, Guntur mengatakan, disusul kemudian Candi Garuda juga dibuka untuk wisatawan pada Agustus mendatang, dan Candi Angsa dibuka kembali pada akhir Desember 2008.

Pada pascagempa kompleks Candi Prambanan tertutup bagi pengunjung, karena sejumlah bangunan candi mengalami kerusakan. Alasan larangan ini karena dikhawatirkan bangunan candi yang rusak itu membahayakan keselamatan wisatawan. “Pada saat itu banyak susunan batuan candi yang lepas dari struktur bangunan, dan dikhawatirkan saat ada pengunjung yang masuk ke kompleks candi, batuan tersebut jatuh menimpa pengunjung,” katanya.

Ia mengatakan, pada saat itu pengunjung hanya bisa melihat bangunan candi dari zona aman, yaitu di luar pagar kompleks Candi Prambanan. “Agar pengunjung bisa melihat secara jelas, di tempat tersebut disediakan panggung,” katanya.

Kata dia, ketika itu setelah pekerjaan renovasi dimulai, pihak manajemen memutuskan untuk membuka kawasan kompleks Candi Prambanan secara terbatas bagi wisatawan. “Mereka diperbolehkan masuk kawasan tersebut dalam zona aman, dan dilarang mendekati maupun masuk ke bangunan candi,” katanya.

Menurut Guntur, pekerjaan renovasi candi justru menjadi daya tarik bagi wisatawan khususnya wisatawan mancanegara (wisman). “Mereka sangat tertarik dan penuh perhatian terhadap pekerjaan renovasi candi, apalagi renovasi dilakukan secara manual oleh para pekerja,” katanya.

Ia mengatakan, para pekerja yang menurunkan batuan candi satu demi satu menjadi tontonan menarik bagi wisman. “Pekerjaan renovasi memang tidak memungkinkan menggunakan peralatan mesin,” katanya.

Mengenai peran UNESCO dalam renovasi candi pascagempa, ia mengatakan Candi Prambanan di perbatsan wilayah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dan Jawa Tengah itu merupakan bangunan purbakala yang otoritas pemeliharaan dilakukan ’world heritage’ yang melibatkan para ahli dari negara-negara di dunia. “UNESCO sebagai lembaga internasional berperan menjembatani negara-negara yang ingin membantu renovasi Candi Prambanan yang rusak akibat gempa bumi dua tahun lalu,” katanya.

JY

Permadi Yakin Mega Ambil Alih Istana Gebang Bung Karno

Dikirim Uncategorized dengan pengait kata (tags), , pada April 29, 2008 oleh arkeologiunud
KOMPAS. Selasa, 29 April 2008 | 21:14 WIB

JAKARTA, SELASA - Politisi PDI Perjuangan  yang juga dikenal dengan julukan ‘penyambung lidah Bung Karno’, Permadi,  memastikan, putri sulung Bung Karno yang tak lain Ketua Umum DPP PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri akan mengambil alih Dalem Gebang, tempat Bung Karno dilahirkan di Blitar, Jawa Timur. Hal ini, akan dilakukan bila pemerintah tak juga peduli untuk menjaga salah satu tempat bersejarah milik bangsa.

“Akan menimbulkan aib, kalau sampai dijual. Kalau sudah kritis, pada akhirnya beliau (Megawati-Red) akan turun tangan. Memang, saya belum tahu persisnya kapan,tapi kalau sampai tidak ada yang mengambil alih, ibu Megawati yang akan turun tangan,” kata Permadi kepada Persda Network, Selasa (29/4).

Sebelumnya, Aryo Subaskoro, salah seorang cucu Wardoyo kakak Bung Karno, berniat menjual aset berharga ini dengan menawarkan kepada pihak investor senilai Rp 50 miliar yang kemudian menimbulkan polemik. Walikota Blitar Djarot Saiful Hidayat menyatakan, Pemkot Blitar berminat membelinya, namun dengan harga yang wajar sebagaimana diatur dalam SK Walikota Blitar 24/2001 tentang Penetapan Lokasi Benda Cagar Budaya. Saat ini, harga tanah di Kota Blitar adalah Rp 10 juta per Ru atau per 14 meter persegi, sehingga nilai tanah Istana Gebang itu sekitar Rp 7,2 miliar.

Permadi mengaku, tak punya uang sehingga tak berniat untuk menyelamatkan salah satu situs milik Bung Karno itu.  Meski begitu, terlepas dari niatan Megawati yang akan mengambil alih Dalem Gebang milik Bung Karno itu, beberapa sesepuh PDI juga sudah melakukan urunan untuk menyelamatkan Dalem Gebang itu.

“Urunannya ada yang Rp 1.000 ada yang Rp 10.000 untuk menyelamatkan. Para tokoh PDI lama yang melakukan urunan ini ada di Jawa Tengah dan Jawa Timur.  Cuma, saya bilang jangan dulu, tahan. Lalu, kalau sudah urunan dan bisa dibeli nanti akan saling menyatakan paling berhak. Bisa repot malah nantinya,” aku Permadi.

Ia kemudian memberikan alasan, yang paling berhak menyelamatkan salah satu peninggalan bersejarah termasuk Dalem Gebang yang diwariskan kepada kakak Bung Karno, Wardoyo ini adalah pemerintah. Pemerintah, kata Permadi adalah yang paling wajib menyelamatkan Dalem Gebang itu, bukan siapa-siapa.

“Pemerintah punya kewajiban. Kalau tidak sampai menyelamatkan, nanti pemerintah akan malu sendiri. Jadi lebih baik diserahkan saja kepada negara, itu jauh lebih baik dari pada diambil alih oleh pihak lain,” pinta Permadi.

“Lain soal kalau pemerintah tidak mau juga. Saya yakin ibu Megawati yang akan turun tangan,” aku Permadi.

Permadi juga mengaku, tiga bulan lalu melihat secara langsung kondisi Dalem Gebang yang terletak di Jalan Sultan Agung, Blitar Jawa Timur ini, dalam kondisi yang tak terurus.  Dijelaskan, sudah hampir belasan tahun Dalem Gebang sudah tak lagi terurus oleh ahli warisnya.

“Tidak ada yang harus disalahkan. Yang punya adalah keluarganya Bung Karno, ibu Wardoyo kakaknya Bung Karno. Kita sayangkan kalau tersiar kabar mau dijual. Tapi, bagaimana lagi ahli warisnya sudah tidak punya uang,” sesal Permadi seraya berharap kembali pemerintah pusat untuk segera mengambil alih. (Persda Network/yat)

Tukang Becak pun Menolak

Dikirim Uncategorized dengan pengait kata (tags) pada April 29, 2008 oleh arkeologiunud
Daerah Jawa Timur
Tukang Becak pun Menolak

SEPUTAR INDONESIA

Rabu, 23/04/2008

SEMENTARA itu, rencana penjualan Istana Gebang itu juga mendapat reaksi protes dari berbagai kalangan.Salah satunya datang dari Paguyuban Becak Wisata Makam Bung Karno (PBWMBK).

Ketua PBWMBK Maryono, 52 warga Kelurahan Sentul Kec Kepanjen Kidul,mengatakan akan menggalang dukungan ke seluruh elemen masyarakat Blitar untuk menolak penjualan Istana itu. ”Kalau perlu kita akan menggelar unjuk rasa. Kita sebagaiwarga Blitar tidak ingin nilai sejarah di Blitar lenyap. Selain itu istana gebang merupakan satu paket obyek wisata selain makam Bung Karno dan perpustakaan,”ujarnya.

Penjualan Istana itu, lanjut Matyono,juga akan menghilangkan mata pencaharian anggota PBWMBK yang terdiri dari 165 orang abang becak ”Selama ini wisatawan yang hendak berkunjung ke makam Bung Karno, perpustakaan dan Istana Gebang,selalu naik becak dengan ongkos Rp18 ribu.Tarif ini satu paket perjalanan wisata di Kota Blitar,”terangnya. Sehingga, jika Istana Gebang benar-benar hilang,maka dalam sehari sekitar Rp 1,6 juta pendapatan abang becak yang hilang.

Pendapatan itu dihitung dari tarif sekali jalan dikalikan dengan 165 orang anggota PBWMBK.”Kalau Istana tidak ada tentu pendapatan kami juga berkurang,”terangnya. Sementara itu,Ny Arum,isteri salah satu ahli waris mengaku selama dua hari terakhir jumlah pengunjung yang datang turun drastis. ”Dalam setiap hari rata-rata ada sekitar 60-70 orang pengunjung, saat ini hanya tinggal 10-15 orang pengunjung,”terangnya.

Apalagi,lanjut dia,setelah adanya pemberitaan yang gencar dilakukan media menurut Arum, setiap pengunjung diwajibkan mengisi buku tamu, termasuk membubuhkan alamat dan nomor telepon yang bisa dihubungi. ”Ini perintah dari keluarga untuk mencatat setiap tamu yang datang,”pungkasnya. (solichan arif)

BAGAIMANA DENGAN ANAK ARKEOLOGI?????


Menpora: Rekening penyelamatan Rumah BK Segera Dibuka

Dikirim Uncategorized dengan pengait kata (tags), , , pada April 29, 2008 oleh arkeologiunud

kompas

Sabtu, 26 April 2008 | 16:52 WIB

BLITAR, SABTU - Menpora Adyaksa Dault menyatakan, pihaknya akan segera melakukan inisiatif untuk membuka rekening guna menghimpun dana untuk menyelamatkan Istana Gebang. Sehingga, bekas rumah mantan presiden RI Ir Soekarno atau Bung Karno (BK) itu tidak jatuh ke tangan orang lain dan tetap menjadi cagar budaya.

Hal itu dikatakan Menpora di Blitar saat diwawancara sebuah radio swasta di Jakarta melalui telepon, Sabtu (26/4) sore, Menpora sengaja datang ke Blitar untuk melihat langsung Istana Gebang tersebut, didampingi beberapa artis, termasuk Yati Octavia.

“Saya tadi pagi membaca koran dan menonton televisi yang memberitakan rumah Bung Karno itu akan dijual. Apalagi, ada berita orang Malaysia tertarik membelinya. Saya langsung ambil tiket terbang ke Blitar bersama beberapa artis.

“Saya sudah lihat bagaimana tempat itu. Saya lihat tempat Bung Karno bermain, tidur dan sebagainya. Semuanya sangat bersejarah. Kalau ini dibeli orang asing atau orang lain, sangat sayang,” katanya.

Di Blitar, Menpora juga sempat bertemu dengan Walikota Blitar, Jarot, juga pejabat setempat. Dari pertemuan itu dia tahu, sejak tahun 2001 rumah yang kemudian menjadi milik Ny Wardoyo - kaka Bung Karno - sudah dimasukkan ke dalam daftar cagar budaya oleh Pemda Blitar.

“Makanya, kalau itu cagar budaya, jika mau dijual maka pemerintah harusnya menjadi pihak pertama yang diberi kesempatan untuk membeli,” jelasnya.

“Ini kan milik kakak Bung Karno, ibu Wardoyo. Anak-anak harus didekati. Saya katakan kepada walikota untuk mendekati. Nanti saya laporkan ke presiden. Nanti yang terbaik bagi presiden akan kita lakukan,” ujarnya.

Menpora dan rombongan juga menyempatkan diri berziarah ke makam Bung Karno. Di sana, katanya, dia disambut masyarakat Blitar. Mereka rata-rata mendukung agar Istana Gebang tetap dipertahankan. “Spontan masyarakat Blitar siap membeli. Mereka siap urunan (patungan, Red). Kalau satu Blitar saja urunan, saya kira seluruh indonesia juga mau,” kata Adyaksa Dault.

“Tak usah khawatir. Cuma harganya juga harus wajar. Kebetulan besok (Minggu, Red) saya dampingi presiden ke Pasuruan. Kami serahkan kepada beliau. Misi kita adalah menyelamatkan cagar budaya. Kalau sudah jadi milik pemerintah, rumah itu bisa jadi museum. Sehingga nanti bisa jadi tempat wisata dan masyarakat bisa melihat museum ini,” terangnya.

Menpora mendapat informasi, Ny Wardoyo memiliki 12 anak. Ternyata, tidak semua anaknya setuju menjualnya. “Maka, saya serahkan kepada walikota Blitar. Semua belum saya laporkan ke presiden,” ujarnya.

“Kita minta waktu. Katanya sudah ada beberapa penawar. Ada penawar dari Malaysia. Siapa ini, dan apa motivasinya. Prosedurnya tak mudah orang asing membeli tanah di Indonesia, apalagi ini bersejarah,” tegasnya.

“Kalau sudah masuk cagar budaya, hak pertama untuk membeli adalah pemerintah. Saya heran, rumah itu ditawarakan Rp50 miliar. Itu mahal sekali. Kalau menurut pak Walikota, harga rumah itu sekitar Rp15 miliar. Itu baru masuk akal,” tegasnya.

Menurutnya, dia berangkat ke Blitar sebagai pribadi dan Menpora. Yang pasti, dia bersama pemerintah akan berusaha menyelamatkan rumah tersebut. Jika memang pilihannya membuat rekening untuk menghimpun dana masyarakat, maka akan dilakukan.

“Bulu kuduk saya langsung berdiri mendengar masyarakat siap urunan. Kita akan buat rekening dan akan kita umumkan. Tak boleh diambil sepeser pun, karena untuk membeli rumah Bung Karno. Kalau perlu untuk membeli rumah-rumah cagar budaya lain yang terancam alih fungsi,” tegas Adyaksa Dault. (HPR)

Rumah keluarga mantan Presiden SUKARNO rencananya akan dijual

Dikirim Uncategorized dengan pengait kata (tags), , , pada April 29, 2008 oleh arkeologiunud

Liputan6.com, Blitar: Rumah keluarga mantan Presiden
Sukarno di Jalan Sultan Agung, Blitar, Jawa Timur,
rencananya akan dijual. Selama ini rumah bersejarah
itu biasa disebut Istana Gebang.

Menurut Arum, kerabat keluarga Bung Karno, Ahad
(20/4), keluarga almarhum Soekarmini, kakak Bung
Karno, akan menjual rumah yang memilik luas tanah satu
hektare ini seharga Rp 50 miliar.

Istana Gebang selama ini digunakan untuk menyimpan
peninggalan benda-benda bersejarah milik Sukarno dan
keluarganya. Banyak pengunjung datang dari Blitar dan
berbagai daerah lain untuk melihat masa kecil Sang
Proklamator.

Sementara itu, hingga kini Pemerintah Kota Blitar
masih belum memeberikan reaksi atas rencana penjualan
salah satu peninggalan bersejarah milik bangsa
Indonesia ini.(IAN/Danang Sumirat)

lihat liputan6.com

Hello world!

Dikirim Uncategorized pada April 8, 2008 oleh arkeologiunud

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!