Menpora: Rekening penyelamatan Rumah BK Segera Dibuka

kompas

Sabtu, 26 April 2008 | 16:52 WIB

BLITAR, SABTU - Menpora Adyaksa Dault menyatakan, pihaknya akan segera melakukan inisiatif untuk membuka rekening guna menghimpun dana untuk menyelamatkan Istana Gebang. Sehingga, bekas rumah mantan presiden RI Ir Soekarno atau Bung Karno (BK) itu tidak jatuh ke tangan orang lain dan tetap menjadi cagar budaya.

Hal itu dikatakan Menpora di Blitar saat diwawancara sebuah radio swasta di Jakarta melalui telepon, Sabtu (26/4) sore, Menpora sengaja datang ke Blitar untuk melihat langsung Istana Gebang tersebut, didampingi beberapa artis, termasuk Yati Octavia.

“Saya tadi pagi membaca koran dan menonton televisi yang memberitakan rumah Bung Karno itu akan dijual. Apalagi, ada berita orang Malaysia tertarik membelinya. Saya langsung ambil tiket terbang ke Blitar bersama beberapa artis.

“Saya sudah lihat bagaimana tempat itu. Saya lihat tempat Bung Karno bermain, tidur dan sebagainya. Semuanya sangat bersejarah. Kalau ini dibeli orang asing atau orang lain, sangat sayang,” katanya.

Di Blitar, Menpora juga sempat bertemu dengan Walikota Blitar, Jarot, juga pejabat setempat. Dari pertemuan itu dia tahu, sejak tahun 2001 rumah yang kemudian menjadi milik Ny Wardoyo – kaka Bung Karno – sudah dimasukkan ke dalam daftar cagar budaya oleh Pemda Blitar.

“Makanya, kalau itu cagar budaya, jika mau dijual maka pemerintah harusnya menjadi pihak pertama yang diberi kesempatan untuk membeli,” jelasnya.

“Ini kan milik kakak Bung Karno, ibu Wardoyo. Anak-anak harus didekati. Saya katakan kepada walikota untuk mendekati. Nanti saya laporkan ke presiden. Nanti yang terbaik bagi presiden akan kita lakukan,” ujarnya.

Menpora dan rombongan juga menyempatkan diri berziarah ke makam Bung Karno. Di sana, katanya, dia disambut masyarakat Blitar. Mereka rata-rata mendukung agar Istana Gebang tetap dipertahankan. “Spontan masyarakat Blitar siap membeli. Mereka siap urunan (patungan, Red). Kalau satu Blitar saja urunan, saya kira seluruh indonesia juga mau,” kata Adyaksa Dault.

“Tak usah khawatir. Cuma harganya juga harus wajar. Kebetulan besok (Minggu, Red) saya dampingi presiden ke Pasuruan. Kami serahkan kepada beliau. Misi kita adalah menyelamatkan cagar budaya. Kalau sudah jadi milik pemerintah, rumah itu bisa jadi museum. Sehingga nanti bisa jadi tempat wisata dan masyarakat bisa melihat museum ini,” terangnya.

Menpora mendapat informasi, Ny Wardoyo memiliki 12 anak. Ternyata, tidak semua anaknya setuju menjualnya. “Maka, saya serahkan kepada walikota Blitar. Semua belum saya laporkan ke presiden,” ujarnya.

“Kita minta waktu. Katanya sudah ada beberapa penawar. Ada penawar dari Malaysia. Siapa ini, dan apa motivasinya. Prosedurnya tak mudah orang asing membeli tanah di Indonesia, apalagi ini bersejarah,” tegasnya.

“Kalau sudah masuk cagar budaya, hak pertama untuk membeli adalah pemerintah. Saya heran, rumah itu ditawarakan Rp50 miliar. Itu mahal sekali. Kalau menurut pak Walikota, harga rumah itu sekitar Rp15 miliar. Itu baru masuk akal,” tegasnya.

Menurutnya, dia berangkat ke Blitar sebagai pribadi dan Menpora. Yang pasti, dia bersama pemerintah akan berusaha menyelamatkan rumah tersebut. Jika memang pilihannya membuat rekening untuk menghimpun dana masyarakat, maka akan dilakukan.

“Bulu kuduk saya langsung berdiri mendengar masyarakat siap urunan. Kita akan buat rekening dan akan kita umumkan. Tak boleh diambil sepeser pun, karena untuk membeli rumah Bung Karno. Kalau perlu untuk membeli rumah-rumah cagar budaya lain yang terancam alih fungsi,” tegas Adyaksa Dault. (HPR)

Tinggalkan Balasan