Arsip untuk Juli, 2008

Temuan Kuno Hilang

Posted in Uncategorized dengan kaitan (tags) , , , , on Juli 11, 2008 by arkeologiunud

KOMPAS/Situs Sejarah

Temuan Kuno Hilang

Jumat, 11 Juli 2008 | 00:14 WIB

Medan, Kompas – Temuan kuno bersejarah di bagian utara Medan banyak hilang tanpa ada pemangku kepentingan yang tahu. Belakangan ditemukan timbunan keramik kuno abad ke-13 hingga ke-14 di Kelurahan Terjun, Kecamatan Medan Marelan, Medan. Sayangnya, temuan ini baru diketahui setelah dua tahun warga menemukannya terlebih dahulu.

”Dua tahun lalu ada penggalian pelebaran Sungai Bederah dekat Belawan. Waktu itu kami hanya tahu banyak keramik di timbunan tanah galian. Saya tidak tahu kalau benda-benda itu bersejarah,” kata pegawai Kecamatan Medan Marelan, Kota Medan, Saiful Bahri Nasution, Kamis (10/7), ditemui di lokasi penemuan.

Kepala Pusat Studi Ilmu Sejarah dan Ilmu Sosial Universitas Negeri Medan Ichwan Azhari mengaku kecolongan. Kalangan akademisi dan arkeolog tidak mengetahui adanya temuan itu. ”Kami baru tahu setelah datang ke lokasi bersama peneliti National University of Singapore, Edward MacKinnon,” kata Ichwan.

Warga setempat menemukan aneka keramik secara tak sengaja. Pecahan keramik kuno tergeletak begitu saja di atas timbunan tanah galian dan sebagian terpendam di kedalaman sekitar 1 meter. Ichwan memastikan banyak keramik kuno yang hilang tanpa sepengetahuan pemerintah.

”Selama dua tahun temuan itu tidak pernah dilaporkan. Sangat mungkin banyak yang hilang,” katanya.

Hilangnya temuan sejarah itu diakui oleh Saiful Bahri. Warga menjual keramik yang relatif masih utuh kepada pendatang yang membelinya, sedangkan keramik yang pecah banyak disimpan warga di rumahnya. (NDY)

Situs Sangiran Akan Dikomparasikan dengan Kenya

Posted in Uncategorized dengan kaitan (tags) , , on Juli 4, 2008 by arkeologiunud
Jumat, 4 Juli 2008 | 00:50 WIB kompas

Magelang, Kompas – Situs manusia purba Sangiran akan dikomparasikan situs manusia purba di Afrika. Sebagai awal penelitian akan dilakukan di situs Omo dan Oduvai di Kenya.

Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Nasional Badan Pengembangan Sumber Daya Kebudayaan dan Pariwisata Departemen Kebudayaan dan Pariwisata Tony Djubiantono menjelaskan, dalam studi ini akan dilihat bentuk sebuah situs yang sengaja dilindungi pemerintah setempat dan jauh dari permukiman penduduk.

”Kami berharap bisa mendapat pengetahuan, celah-celah tempat seperti apa yang perlu dilihat lagi untuk menggali lebih banyak temuan dari Sangiran,” ujarnya di sela-sela seminar ”Uncovering The Meaning of The Hidden Base of Candi Borobudur” di Hotel Manohara, Magelang, Jateng, Kamis (3/7).

Situs Sangiran dianggap sudah rusak karena 80 persen bagiannya sudah dirambah manusia, bahkan fosil-fosilnya diperjualbelikan. Dengan melihat situs utuh, belum tersentuh di Kenya, diharapkan didapat informasi untuk memperdalam penelitian di titik-titik yang selama ini belum pernah tersentuh di Sangiran.

Dari penelitian ini, nantinya juga akan dipelajari manajemen pengelolaan situs. Pengetahuan ini, menurut Tony, akan menjadi informasi dan masukan penting bagi pemerintah, untuk menjaga situs Sangiran yang berada di tengah permukiman penduduk.

Setelah itu akan dilakukan studi komparasi di situs manusia purba di Etiopia dan Tanzania. Afrika dipilih karena di sana merupakan lokasi cikal bakal migrasi manusia purba (Homo erectus). (EGI)